Berita Terbaru, Inspirasi

Aku Masih Tunanganmu?

Di gubuk sebelah lapangan aku dan Dimas berteduh, menunggu hingga hujan reda. Seharusnya jam 3 sore aku harus sudah sampai di posko KKM sedangkan sekarang sudah pukul setengah lima. Kiranya sudah dua jam lebih aku berteduh bersama Dimas. Entah waktu yang terlalu cepat atau kita yang sudah nyaman berduaan menikmati gemercik air yang tanpa di undang. Agaknya Tuhan tahu, kalau aku masih ingin merindukannya dan tidak mau jauh-jauh darinya untuk sementara ini. Sebulan lagi, aku dan Dimas akan menjalani salah satu tugas kami sebagai mahasiswa, yaitu KKM. Program ini dilakukan pada liburan pergantian semester dari tiga ke empat.

“Rasanya Tuhan belum ingin memisahkan kita Dim” kataku sambil melihat percikan air yang menempel pada helm kami.

“Benar Jah, sebulan adalah waktu yang lama untukku bertahan tanpa melihatmu” balas Dimas.

Tangannya mulai menyentuh tanganku. Aku beralih menatap Dimas yang berada di sampingku. Kami saling berpandangan dengan tangan kami yang saling memegang.

“Tetap seperti ini ya Ijah” tambah Dimas, sambil mengelus cincin pertunangan kami.

“Pasti Dimas” jawabku yakin. “Percayalah Dim, jarak tak akan mampu memisahkan kita, karena cinta kita bukan di mata tapi berada di relung hati” ucapku sambil memegang dada sebelah kiri Dimas.

“Aku percaya Jah, aku telah bersusah payah mu dan kedua orang tua kita saling kenal. Kita pasti bertahan sampai pelaminan datang”.

“Dim, coba hitung berapa banyak tetes air yang turun ke bumi” Aku menunjuk ke rintikan hujan.

“Berapa ya, yang pasti sangat banyak. Lihat aja genangannya sampai meluber gitu”.

“Hallah, kan aku pengen Dimas hitung” pintaku manja.

“Gantian Ijah hitung deh, coba berapa jumlah pasir yang ada di lautan”

“Koq malah gantian yang tanya”

“Habisnya, pertanyaannya tidak rasional. Percuma dong jadi Mahasiswa” Ucap Dimas sambil terkekeh-kekeh.

“Kadang kita lebih perlu intuitif Dim daripada rasional. Kalau rasional hanya mengajari kebenaran. Intuitif mengajarkan kita kejujuran”.

Dimas melongo

“Hujan yang turun ke bumi tidak bisa dihitung kamu benar, tapi kurang”

“Terus apa?”

“Di setiap tetesnya ada cinta dan rinduku untukmu”

Kami tertawa bersama. Entahlah, aku selalu merasa nyaman saat berada di dekat Dimas, dia mampu pengertian, tanggung jawab, berkorban tidak sekadar dia adalah tunanganku, dan banyak hal yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Seperti hujan yang tak pernah bercerita, untuk siapa dia datang dan mengguyur kota.

Setelah hujan reda, aku diantar Dimas sampai ke tempat KKM dan dia pamit untuk menjalankan tugas KKM nya juga. Aneh memang dia, lebih memilih mengantarkanku dulu daripada langsung menuju lokasi bersama temannya. Aku dan Dimas satu jurusan, tapi beda kelas. Meskipun beda kelas, tiap hari kita pasti ada jam untuk ketemu.

 

Hari pertama KKM rasanya melelahkan, banyak hal yang perlu di tata, kenalan dengan teman yang baru tahu di KKM,  mempersiapkan program, dan pembagian jadwal untuk aktivitas keseharian selama sebulan. Sampai aku lupa, belum memberi kabar pada Dimas. Kulihat ponselku, dan memang banyak chat dan panggilan yang masuk dari dia.

 

KKM berlalu, Aku dan teman-teman pulang naik travel, kebetulan salah satu dari teman KKM ada yang bisa mengandarai mobil. akhirnya penyiksaan rindu selama sebulan ini berakhir juga, ucapku dalam hati. Berfikir bahwa akan bertemu Dimas membuat lelahku agak berkurang,

“Nanti jadi ketemu Dim” tanyaku padanya melalui WA.

Lama aku menunggu notif WA ku berbunyi. Sampai tak sadar aku ketiduran.

“Besok saja ya Jah, hari ini kebetulan teman-temanku belum pada pulang. Kamu istirahat saja ya”

“Oke”

Besoknya aku dan Dimas sepakat untuk bertemu di depan perpustakaan. Di hamparan hijaunya rerumputan, di bawah pohon kelengkeng. Kami bercerita banyak sekali kenangan KKM. Mulai aku yang belajar masak disana, suka marah kalau melihat teman yang merokok, belajar untuk bersosialisasi di masyarakat, belajar memimpin rapat, mengajar anak TPQ, mengajar ibu-ibu yang sudah lansia tapi semangatnya luar biasa. Aku memang sudah meneritakan semuanya pada Dimas setiap hari, hanya saja. Aku ingin dia mendengarnya secara langsung. Dimas juga bercerita tentang dia yang takut pada anjing, setiap pagi harus menimba air dulu untuk mandi dan kegiatan keseharian yang hampir sama denganku. Tapi, aku yang lebih banyak bercerita.

Sebelum kita berpisah, Dimas mengucapkan sepatah kalimat.

“Maafkan aku”

“Maaf untuk apa, tidak ada yang perlu dimaafkan ? “ tanyaku sambil tersebyum.

“Kita tidak bisa bersama”

“Maksudnya?”

Dimas menggaruk-garukan kepalanya dan memalingkan mukanya.

“Aku mencintai wanita lain”

Suaranya lirih dan aku samar mendengarnya.

“Maksudnya apa, kamu bercanda kan” kataku sambil memalingkan muka Dimas agar beradapan denganku.

“Benar, aku mencintai wanita lain dan tidak bisa mencintaimu lagi”

“Kenapa Dimas, apa kita tidak bisa bicara baik-baik” aku mencoba tenang.

“Tidak bisa Jah, aku sudah terlanjur mencintainya”

“Siapa? Bukankah kamu sudah terlanjur mencintaiku dan juga menjadikanku tunanganmu”

“Tidak bisa Jah, rasanya kita tidak cocok lagi”

“Apa yang tidak cocok Dim, cinta dalam kejenuhan itu biasa, asal ada kata maaf setelahnya. Tapi bukan maaf meninggalkan”. Emosiku mulai keluar.

“Status kita sudah tunangan loh Dim”

“Iya, maaf”

“Maaf untuk apa Dimas, aku tidak mau kita udahan begitu saja. Bukankah kamu dulu yang memintaku agar kamu bisa main ke rumahku meskipun sudah aku larang, bukankah kamu yang mengenalkanku pada orang tuamu, bukankah kamu yang memberikan cincin ini agar kita bisa abadi, bukankah kamu yang selalu mengenalkanku pada kakak perempuanmu agar kita saling menyatu” butiran air mata keluar dari kedua kelopak mataku.

Hari ini, hari dimana matahari sangat terik yang membuat pori-pori kulitku mengeluarkan airnya, senada dengan panasnya hatiku yang teduh namun terluka. Aku merapatkan kedua kakiku dan tak mampu lagi aku berjalan. Hari ini, hari dimana aku memilih untuk mengurung diri dari semua makhluk yang bernama lelaki. Hari ini, ku tak ingin ingat lagi kejadian yang menimpaku dari pagi sampai sore ini. Aku ingin sendiri bersama isak tangis yang tak mau berhenti

Seminggu, Aku belajar melupakan semuanya. Menjalani hari seperti orang biasa, bersosialisai, bercengkerama, tertawa seperti tak ada beban yang terlihat di mata mereka.

“Jah, itu Dimas bergandengan dengan Lia, bukannya Dimas denganmu ya”, kata Santi yang menunjuk ke loby tempat mereka mengarah.

Aku tidak mampu berkata, sebenarnya aku tidak ingin Santi dan teman-temanku tahu akan hal ini. Tapi kejadian ini membuatku ingin segera pergi. Aku seperti orang bodoh yang dikhianati teman sendiri. Siapa yang salah, Dimas atau Lia. Kurasa dia tahu kalau aku dan Dimas sudah tunangan. Kenapa KKM yang sebulan ini mengubah kenangan menjadi kehilangan.

 

Penulis: Fariief El Ardass (FB)