Berita Terbaru, Filsafat

Optimalisasi Filsafat Pendidikan Wanita

Kebebasan menjadi musuh yang nyata bagi wanita pada zaman dulu, persoalan emansipasi masyarakat menuntut adanya keadilan di semua aspek kehidupan. Namun seiring dengan pergantian zaman, perubahan nasib terjadi bagi kaum wanita. Kesempatan diberikan oleh negara secara resmi kepada kaum wanita dengan sepenuhnya untuk berperan di berbagai sektor, misalnya kebebasan menjadi driver ojek online, kepala sekolah, mentri hingga presiden. Tidak hanya berhenti pada orientasi rumah tangga saja melainkan lebih merambah ke bidang yang lebih luas tanpa harus melepas tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu.

Wanita identik dengan perasaan yang sensitif serta memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dari laki-laki, tentunya juga lebih dekat dengan sifat kelembutan dan kelemahan. Hakikatnya wanita merupakan makhluk yang penus kasih dan tulus dalam mencintai, sehingga tugas alamiah menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang sangat tepat dengan kemampuan yang dimiliki. Keterampilan ini akan sangat berpengaruh di dunia pendidikan, terlebih dalam hal mendidik anak-anaknya sendiri.

Kendati demikian, wanita masih sering menjadi sasaran tindak kekerasan, pelecehan dan intimidasi dari pihak tertentu. Salah satu upaya untuk menghindari segala bentuk deskriminasi terhadap kaum wanita bisa diantisipasi melalui sektor pendidikan, dengan berbagai disiplin ilmu yang berafiliasi langsung dalam kehidupan sehari-hari dapat melengkapi keterbatasan yang ada dari kaum wanita, agar lebih mengenal realitas dan mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di sekitarnya. Istania Widayati Hidayati sebagai representasi kaum wanita menggagasas filsafat pendidikan wanita sebagai upaya preventif pada ketidakadilan yang masih terjadi di kalangan wanita.

Filsafat pendidikan berhubungan erat dengan dunia wanita, gagasan ini merupakan usaha untuk memberikan ruang yang seharusnya diperoleh bagi wanita. Secara epistemologi Filsafat Pendidikan bisa mendukung emosional, intelektual dan keterampilan kaum wanita secara optimal. Wawasan yang dikaji berorientasi pada tingkat ketelitian dan kecakapan yang memicu bangkitnya potensi dari dalam diri, agar menjadi orang yang terus berkembang dan berpikir luas.

Secara fundamental, filsafat pendidikan wanita mengarah pada hal yang intuitif, terutama pada kekuatan cinta. Rasa cinta dan ketulusan wanita yang lebih dalam dari laki-laki akan melahirkan pengaruh positif di dunia pendidikan, sehingga optimalisasi pendidikan yang dipelopori oleh kaum wanita dengan kekuatan cinta dan kelembutannya bisa berkontribusi besar dalam proses pembangunan bangsa. Berbeda dengan laki-laki yang relatif pragmatis dan kurangnya tingkat ketelitian. Disisi lain, wanita memiliki kekuatan istimewa yang mampu menjatuhkan seorang laki-laki hebat pada titik paling rendah atau bahkan menghebatkan laki-laki biasa pada tingkat tertinggi diluar batasnya.

Pentingnya pendidikan bagi kaum wanita bukan sekedar untuk mengikuti formalitas kesetaraan sesama manusia, tapi untuk melindungi diri dari kepentingan yang seringkali merugikan kaum wanita sekaligus memperjuangkan emansipasi wanita dari beragam bentuk persekusi. Kegelisahan yang tampak nyata di berbagai aspek kehidupan wanita bukan termasuk indikasi permasalahan kehidupan, namun hal itu merupakan realita kehidupan bahwa untuk memaksimalkan filsafat pendidikan tidak cukup hanya dengan mengandalkan rasional, karena rasionalitas tidak akan mampu menjawab problematika perselingkuhan, kecurangan atau perceraian. Kekuatan emosional dan spiritual juga perlu diperhatikan agar bisa mencapai Spiritual Quotient; makna dan nilai yang tinggi untuk kebutuhan manusia pada sesuatu yang ‘lain’, tidak terlihat, tidak juga terhitung, namun bisa terasa.

Kiprah wanita dalam bidang pendidikan berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan, kebutuhan untuk memberdayakan wanita sangat terasa secara universal. Jika mengingat sejarah, realita kehidupan wanita selalu menempati posisi kedua dalam masyarakat global. Ketika kaum wanita di Amerika menyadari hal ini, mereka menentang ketidakadilan ini dengan pergerakan yang besar dan menuntut hak yang sama. Sebagai bentuk perlawanan pada ketidakadilan ini, UNO (United Nations’ Organizaion) membuat suatu kesepakatan yang disebut dengan ‘The Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination against Women’ (CEDAW) yang selanjutnya mengarah pada pembentukan Komisi Perempuan. Memperhatikan latar belakang ini, pemberdayaan wanita menjadi sorotan secara global dan pendidikan menjadi salah satu cara dalam pemberdayaan wanita.

Menurut Drs. Arbaiyah Prantiasih M,Si pengajar studi hukum dan kewarganegaraan Universitas Negeri Malang, upaya pemberdayaan wanita merupakan upaya berkelanjutan sesuai dengan dinamika perubahan sosial-budaya atau ekonomi yang berlangsung secara cepat dalam era globalisasi. Upaya program penambahan pengetahuan dan profesionalitas wanita merupakan tuntutan masa depan yang tidak bisa dielakan lagi. Partisipasi kaum wanita di sektor pendidikan merupakan langkah penting menuju peradaban yang lebih maju di masa depan, kesetaraan gender dimanifestasikan melalui tanggung jawab yang adil dan merata oleh pria dan wanita, dengan menjalin kerjasama serta membangun interaksi dalam kondisi sosial dan pendidikan.

Proses pemberdayaan kaum wanita melalui media pendidikan memainkan peran penting untuk kemakmuran, pembangunan dan kesejahteraan bagi peradaban manusia. Indonesia merupakan negara yang menunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesetaraan, semestinya mampu memperlakukan wanita dengan sebaik-bainya. Peran wanita tidak lagi hanya berorientasi pada rumah tangga, namun bisa lebih luas ke berbagai bidang secara umum.

Demi mewujudkan kesejahteraan bagi bangsa, optimalisasi tentang gagasan filsafat pendidikan wanita perlu dimunculkan untuk melawan problematika yang mengerucut pada kaum wanita seperti kasus perkosaan, pembuangan anak dan bunuh diri. Filsafat pendidikan wanita berusaha menggali hakikat wanita yang sebenarnya serta memposisikan kaum wanita pada tempat yang seharusnya untuk memberikan gambaran nyata bahwa wanita membutuhkan perhatian dari bentuk nyata keadilan, keamanan dan kesetaraan yang selama ini belum terpenuhi secara optimal.

 

Penulis: Febi Akbar Rizki