Berita Terbaru, Inspirasi, Pameran Buku, Workshop

Profesi Konseling di Era 4.0

Abad 21 yang juga disebut dengan masa revolusi industri 4.0 perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu kemajuan yang dicapai manusia. Menurut Luhur (2009) abad 21 atau era globalisasi yang telah kita masuki ini ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin canggihnya sistem komunikasi dan arus informasi, tuntutan kerja yang semakin professional Perubahan dan perkembangan zaman mengharuskan manusia untuk  mampu melakukan penyesuaian, hal itu berlaku baik bagi individu ataupun masyarakat.  Istilah revolusi industri 4.0 sendiri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Revolusi industri inipun sedang berjalan dari masa ke masa. Dekade terakhir ini sudah dapat disebut memasuki fase keempat 4.0. Perubahan fase ke fase memberi perbedaan artikulatif pada sisi kegunaannya. Fase pertama (1.0) ditandai dengan ditemukannya mesin yang menitik beratkan (stressing) pada mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) sudah beranjak pada estape produksi massal yang terintegrasi dengan quality control dan standarisasi. Fase ketiga (3.0) memasuki tahapan keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Lalu pada saat ini, kita berada pada fase keempat (4.0) (Suwardana, 2017).

Handoyo (2018) menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 meliputi tiga hal, Pertama, velocity atau kecepatan dimana suatu perkembangan bergerak secara eksponesial tidak linier. Kedua, breadth and depth atau lebar dan mendalam, dalam arti revolusi digital dan perkembangan teknologi mendorong perubahan paradigma yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam ranah ekonomi, bisnis, masyarakat, dan individu. Hal ini tidak hanya mengubah tentang apa dan bagaimana melakukan sesuatu, tetapi juga tentang siapa kita. Ketiga, systems impact atau dampak sistem. Hal ini melibatkan transformasi dalam seluruh sistem, yang melintasi negara, perusahaan, industri dan masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang bermental kuat dan memiliki kualifikasi yang secara ideal berpotensi dapat menghadapi revolusi industri 4.0 dengan segala dinamika dan tantangannya.

Beberapa karakteristik revolusi industri 4.0 yang berhubungan dengan dunia informasi seperti ; pertama, munculnya fenomena distruptive innovation. Secara sederhana distruptive innovation merupakan fenomena tergantungnya para pelaku industri lama (incumbent) terhadap para pelaku industri baru akibat kemudahan teknologi informasi. Dampak dari fenomena ini telah berjalar di segala bidang kehidupan. Mulai dari industri ekonomi, pendidikan, politik, dan sebagainya. Fenomena ini juga telah berhasil menggeser gaya hidup (lifestyle) dan pola pikir (mindsite) masyarakat dunia. Selain itu, distruptive innovation juga menyebabkan bermunculannya profesi-profesi baru yang sebelumnya tidak ada, seperti youtuber, website developer, blogger, game developer, dan sebagainya. Kedua, literasi baru, saat ini literasi tidak hanya mencakup perihal membaca, menulis, dan berhitung. Namun muncul literasi baru yang mencakup literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis, dan membuat kesimpulan berfikir berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif (Suwardana, 2017).

Permasalahan yang dihadapi oleh manusia menjadi semakin kompleks ketika memasuki era digital dengan kemajuan teknologi atau biasa disebut dengan era globalisasi yang menjadikan perkembangan mobilitas manusia menjadi serba cepat. Gibson & Mariane  (2011) menyatakan bahwa konselor memiliki tanggung jawab penuh dalam menjalankan tugasnya di era yang semakin maju ini, konselor harus mempunyai keahlian khusus yang tidak bisa dilakukan oleh guru biasa, selain itu sifat-sifat konselor harus mencerminkan seorang pembimbing yang mampu mengarahkan dan juga mempunyai tugas-tugas untuk menjalankan bimbingan.  Perkembangan informasi global dan kompleksitas tata nilai kehidupan sejatinya mendorong peran konselor untuk lebih proaktif,  memiliki pengetahuan yang meningkat, tidak stagnan. Beberapa usaha yang harus dilakukan oleh konselor dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab profesi konseling, dalam menghadapi tantangan zaman yaitu berkaitan dengan: (1) kerangka kerja konseling, (2) profesionalisme, (3) profesionalisasi, (4) pemberdayaan, (5) jiwa entrepreneur, (6) keterampilan dan kualitas pribadi yang efektif.

Sumber: Hafifuddin Nur. 2020. Profesi Konseling Dalam Menghadapi Tantangan Zaman. Malang: Literasi Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *