Hidup Tidak Memintaku Menang Hanya Bertahan
Dua Ratus Ribu: Catatan tentang Bertahan dan Bertumbuh
Hidup tidak pernah meminta kemenangan, hanya keteguhan untuk bertahan. Di tengah ekonomi keluarga yang goyah, makna “cukup” dipelajari dari angka yang sederhana namun berat dijalani. Dua ratus ribu bukan sekadar nominal, melainkan jejak hari-hari yang ditempuh dengan doa panjang, langkah sunyi, dan keyakinan bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam.
Di kota orang, jauh dari rumah, kesepian tumbuh tanpa aba-aba. Peran sebagai anak perempuan pertama menghadirkan tanggung jawab yang tak selalu memberi ruang untuk runtuh. Lelah disimpan rapi, air mata ditenangkan dalam diam, dan keinginan untuk pulang kerap ditunda demi satu hal yang terus dijaga: keberanian untuk tetap melangkah, meski pelan, dalam lindungan iman.
Cinta pun pernah singgah lalu pergi, menyisakan hening yang mengajarkan banyak hal. Dari patah yang paling dalam, dipahami bahwa kehilangan tidak selalu menghadirkan akhir. Ada pematangan, ada penjernihan hati, ada proses panjang untuk berdamai dengan kenyataan—serta belajar mempercayai bahwa setiap takdir membawa maksud yang lebih baik.
HIDUP TIDAK MEMINTAKU MENANG, HANYA BERTAHAN (Dua Ratus Ribu: Catatan Bertahan dan Bertumbuh) adalah refleksi tentang jatuh tanpa kehilangan arah, tentang bertahan tanpa harus menjadi sempurna di tengah segala keterbatasan. Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati, bukanlah tentang tak pernah goyah, melainkan tentang tetap berdiri dengan tenang, dalam penjagaan iman dan keyakinan kepada-Nya.
| Penyusun | Lidia Sandy Kartika |
|---|---|
| ISBN | - |
| Penerbit | CV Literasi Nusantara Abadi |
| Halaman | viii + 124 |
| Harga | Rp 120.000 |