Demokrasi Terbelah
Politik Identitas Berbasis Agama dan Budaya di Media sosial
Perkembangan media sosial sebagai ruang publik baru telah mengubah lanskap komunikasi politik secara signifikan. Platform digital tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi, tetapi telah menjelma menjadi arena pertarungan wacana, pembentukan opini, sekaligus mobilisasi massa. Dalam konteks ini, identitas agama dan budaya kerap dijadikan instrumen politik untuk memperkuat dukungan, membangun loyalitas kelompok, bahkan menegaskan batas antara “kami” dan “mereka”. Akibatnya, demokrasi yang semestinya menjadi ruang dialog yang inklusif justru berpotensi mengalami keterbelahan yang tajam. Di tengah derasnya arus informasi, disinformasi, dan polarisasi algoritmik, masyarakat dihadapkan pada tantangan baru dalam menjaga kohesi sosial. Oleh karena itu, buku ini juga menawarkan refleksi normatif mengenai pentingnya literasi digital, etika bermedia, serta penguatan nilai-nilai demokrasi yang berkeadaban. Demokrasi tidak boleh direduksi menjadi sekadar kompetisi elektoral, melainkan harus dipahami sebagai proses deliberatif yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi persatuan.
| Penyusun | Dr. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si. |
|---|---|
| ISBN | |
| Penerbit | CV Literasi Nusantara Abadi |
| Halaman | vi + 226 |
| Harga | Rp 194.000 |