Cenderawasih Tak Lagi Bernyanyi

 

Di sebuah kampung di pedalaman Papua, nyanyian burung cenderawasih selalu menjadi tanda bahwa hutan masih hidup dan masyarakat adat masih memiliki rumah. Yonas, seorang pemuda yang terikat erat dengan alam, dan adiknya Marta, hidup dalam keseharian yang diliputi kearifan leluhur serta ajaran tetua kampung, Pak Samuel. Hutan bagi mereka bukan sekadar pohon, melainkan kitab ingatan dan jalan pulang bagi roh nenek moyang. Namun, kedamaian itu mulai retak ketika perusahaan tambang dan kayu datang dengan mesin-mesin besar, peta berwarna, dan izin dari negara. Hutan yang dulu bernyanyi mulai terancam diam. Pohon pertama yang tumbang menjadi tanda awal hilangnya kata-kata leluhur. Yonas bersama pemuda kampung mencoba bertahan dengan doa, tanda, dan langkah perlawanan: menanam patok, membuat barikade, hingga duduk di jalan menghadang alat berat.

Novel ini bukan sekadar kisah perlawanan, melainkan elegi bagi tanah yang mencoba mengingat dan manusia yang menolak lupa. Sebab, di antara sisa-sisa daun dan abu, masih ada seekor cenderawasih yang menunggu saatnya bernyanyi lagi.

 

Penyusun

Henry Ch. Iwong

ISBN-
PenerbitPT Literasi Nusantara Abadi Grup
Halamanviii + 122
Harga

Rp 210.000