Living Hadis

Ekspresi Seni Keagamaan Dalam Membendung Radikalisme Milenial
(Jam’iyah Selawat Bhenning dan Selawat Syabab di Kabupaten Situbondo)

 

Living hadis merupakan penomena yang muncul dalam kehidupan masyarakat, seperti kajian teks hadis berkembang menjadi kajian sosial budaya yang objeknya masyarakat beragama. Living Hadis dapat dimaknai sebagai tradisi yang hidup ditengah masyarakat dan bisa saja terjadi didaerah tertentu saja atau daerah yang lebih luas cakupannya. Living Hadis lebih didasarkan atas adanya tradisi yang hidup di masyarakat yang disandarkan kepada hadis. Penyandaran pada hadis tersebut bisa saja dilakukan hanya terbatas di daerah tertentu saja atau lebih luas cakupannya. Berbeda dengan Fazlur Rahman (1965) yang memberikan defenisi hadis sebagai berikut: "We have said repeatedly-perhaps to the annoyance of some readers-that hadith, although it has as its ultimate basic the Propethic Model, represents the workings of the early generations on that model. Hadith, in fact is the sum total of aphorism formulated and put out by muslims them selves, ostensibly about the prophet althought not withouth an ultimate historical touch whith the prophet. Its very aphoristic character shows that is not historical It is rather gigantic and monumental commentary on the Prophet by the early community."

Karya

Dr. Nawawi, M. Ag.
M. Zikwan, S.Sy., MH.

ISBN-
PenerbitPT. Literasi Nusantara Abadi Grup 
Halaman

viii + 89

HargaRp 85.000