Penulis: Elfhaniss Dina Fitria
Penyunting: Ira Atika Putri
Membuang sampah pada tempatnya merupakan salah satu kebiasaan dasar yang perlu dikenalkan sejak dini. Di sekolah dasar, materi tersebut bahkan sering disampaikan berulang kali melalui penjelasan guru, poster di kelas, hingga teguran ketika siswa membuang sampah sembarangan.
Namun, tidak sedikit guru yang masih menemukan siswa membuang bungkus makanan di laci meja atau meninggalkan sampah di halaman sekolah. Padahal, siswa sudah mengenal berbagai jenis sampah dan dapat menjawab dengan benar ketika ditanya di kelas.
Lantas, mengapa siswa masih buang sampah sembarangan meskipun sudah diajarkan berkali-kali? Persoalannya mungkin bukan pada seberapa sering materi disampaikan, melainkan pada bagaimana pengetahuan tersebut dihubungkan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Tahu Jenis Sampah Belum Tentu Memahami Dampaknya
Materi tentang sampah di sekolah dasar sering dimulai dengan pengenalan berbagai jenis sampah. Siswa belajar membedakan sampah organik dan anorganik serta mengenali sampah yang ditemukan di lingkungan sekitar.
Pengetahuan tersebut tentu penting. Namun, mengetahui jenis sampah belum tentu membuat siswa memahami mengapa sampah perlu dikelola dengan baik.
Jika pembelajaran hanya berhenti pada “ini sampah organik” dan “ini sampah anorganik”, materi dapat berubah menjadi hafalan. Siswa mampu menjawab pertanyaan saat pembelajaran atau ujian, tetapi belum tentu terdorong untuk mengubah kebiasaan ketika berada di luar kelas.
Menghubungkan Sampah dengan Pencemaran
Materi tentang sampah dapat menjadi lebih bermakna ketika dihubungkan dengan pencemaran dan dampaknya. Siswa perlu memahami bahwa sampah yang dibuang sembarangan bukan hanya membuat lingkungan terlihat kotor.
Sampah dapat mencemari tanah, air, dan udara. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kesehatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya.
Dengan memahami hubungan sebab dan akibat tersebut, siswa dapat melihat alasan mengapa membuang sampah pada tempatnya penting. Mereka tidak hanya mengikuti aturan karena diminta guru, tetapi juga mulai memahami dampak dari tindakan yang dilakukan.
Mengajak Siswa Mengamati Lingkungan Secara Langsung
Pembelajaran tentang sampah akan lebih mudah dipahami apabila siswa diberi kesempatan untuk mengamati kondisi lingkungan secara langsung. Guru dapat mengajak siswa melihat bagian sekolah yang bersih dan bagian yang masih dipenuhi sampah.
Setelah itu, siswa dapat diajak membandingkan kedua kondisi tersebut. Mereka dapat mendiskusikan perbedaannya serta pengaruh lingkungan yang bersih dan tercemar terhadap kenyamanan bersama.
Kegiatan seperti ini membuat siswa tidak hanya menerima informasi dari guru. Siswa juga dapat membangun pemahaman berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami sendiri.
Konsistensi Membantu Membentuk Kebiasaan
Menjaga kebersihan merupakan kebiasaan yang terbentuk melalui tindakan kecil yang dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, satu atau dua kali penjelasan belum tentu cukup untuk membuat kebiasaan tersebut melekat pada diri siswa.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga mendorong pembiasaan perilaku hidup bersih di lingkungan sekolah. Kebiasaan menjaga kebersihan perlu dilatih secara konsisten agar menjadi bagian dari keseharian siswa.
Guru dapat memasukkan kebiasaan tersebut ke dalam rutinitas kelas. Misalnya, melalui jadwal piket, kebiasaan memilah sampah sebelum dibuang, atau evaluasi kebersihan kelas secara berkala.
Peran Guru dan Sekolah dalam Menjaga Kebiasaan
Pembentukan kebiasaan menjaga kebersihan tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan guru. Lingkungan sekolah juga perlu mendukung siswa agar dapat mempraktikkan pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Ketersediaan tempat sampah yang sesuai, misalnya, dapat membantu siswa menerapkan kebiasaan memilah dan membuang sampah dengan benar. Lingkungan sekolah yang bersih juga memberikan contoh nyata mengenai pentingnya menjaga kebersihan.
Selain itu, guru dapat memberikan teguran dengan cara yang mendidik ketika siswa melakukan kesalahan. Keteladanan dan arahan yang konsisten membantu siswa memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama, bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi.
Kesimpulan
Siswa yang masih buang sampah sembarangan meskipun sudah diajarkan berkali-kali bukan berarti materi PLH gagal disampaikan. Pengetahuan tentang sampah perlu dihubungkan dengan dampak pencemaran dan pengalaman nyata agar siswa memahami alasan di balik kebiasaan menjaga kebersihan.
Kebiasaan tersebut juga membutuhkan pengamatan langsung dan pembiasaan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pemahaman, pengalaman, dan pembiasaan berjalan bersama, siswa tidak hanya mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan merupakan tindakan yang salah, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Ingin Mengajarkan Sampah dan Pencemaran kepada Siswa?
Buku Pendidikan Lingkungan Hidup untuk SD Kelas III yang diterbitkan Penerbit Literasi Nusantara dapat menjadi salah satu media pendukung pembelajaran PLH bagi guru dan siswa SD.
Buku ini membahas berbagai materi yang berkaitan dengan sampah dan pencemaran, mulai dari mengenal jenis sampah, memahami pencemaran dan dampaknya, hingga mengenali ciri lingkungan yang bersih dan tercemar.
Dalam buku ini termuat lima materi pembahasan sebagai berikut.
- Mengenal Sampah dan Jenisnya
- Mengetahui Pencemaran dan Jenis-Jenisnya di Lingkungan Sekitar
- Dampak Sampah dan Pencemaran pada Lingkungan Sekitar
- Ciri Lingkungan Bersih dan Tercemar
- Menjaga Kebersihan Lingkungan dari Sampah dan Pencemaran
Melalui materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa dapat diajak memahami hubungan antara sampah, pencemaran, dan kondisi lingkungan sekaligus membangun kebiasaan menjaga kebersihan secara konsisten.
Referensi
- ANTARA News. (2025). Kemendikdasmen Sambut Gerakan Sekolah Bersih, Dukung Jaga Lingkungan. ANTARA News.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). Sekolah Jadi Awal Budaya Hidup Sehat, Kemendikdasmen dan BPOM Edukasi Pangan Aman. Kemendikdasmen.
- Tempo.co. (2026). Kegiatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bisa Dimulai dari Sekolah. Tempo.