Penulis: Elfhaniss Dina Fitria
Penyunting: Ira Atika Putri
Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH menjadi salah satu pembelajaran yang diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis pada anak sejak usia dini, khususnya di jenjang sekolah dasar. Melalui PLH, siswa diperkenalkan pada berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan diri, berinteraksi dengan sesama, hingga merawat tumbuhan di sekitar mereka.
Namun, materi yang sudah disampaikan berulang kali belum tentu langsung terlihat dalam perilaku siswa. Siswa masih dapat berebut dan bersikap kasar kepada teman, malas mencuci tangan, atau enggan merawat tanaman yang telah ditanam bersama.
Lantas, apa yang sebenarnya terlewat dalam pembelajaran PLH? Bisa jadi persoalannya bukan pada seberapa sering materi disampaikan, melainkan pada pendekatan yang digunakan, termasuk hubungan antara sikap terhadap sesama dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kesenjangan antara Pemahaman dan Tindakan
Banyak pembelajaran PLH masih berfokus pada penjelasan konsep di depan kelas. Guru menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan tubuh, bersikap baik kepada teman, atau merawat tanaman.
Pendekatan tersebut dapat membantu siswa memperoleh pengetahuan. Namun, pengetahuan belum tentu langsung berubah menjadi sikap dan tindakan.
Siswa mungkin dapat menjawab dengan benar ketika ditanya tentang pentingnya menjaga kebersihan. Namun, ketika bermain atau berada di kantin sekolah, mereka belum tentu menerapkan pengetahuan tersebut.
Ada jarak antara “tahu” dan “melakukan”. Oleh karena itu, pembelajaran PLH perlu memberikan ruang kepada siswa untuk mengalami dan mempraktikkan nilai yang dipelajari.
Interaksi Sosial sebagai Fondasi Kepedulian Lingkungan
Sikap peduli lingkungan tidak berdiri sendiri. Sikap tersebut juga berkaitan dengan cara siswa berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Ketika siswa dibiasakan bersikap baik, saling menghormati, dan bekerja sama, kebiasaan tersebut dapat mendukung tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan yang lebih luas. Siswa yang terbiasa peduli kepada temannya akan lebih mudah diarahkan untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.
Keduanya tumbuh dari rasa tanggung jawab terhadap sesuatu di luar dirinya. Sebaliknya, sikap egois atau tidak acuh terhadap sesama dapat membuat kepedulian terhadap lingkungan lebih sulit berkembang.
Dalam hal ini, guru perlu menghubungkan sikap terhadap sesama dengan sikap terhadap lingkungan, bukan mengajarkannya sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah.
Pengalaman Langsung Membantu Membentuk Sikap
Pembelajaran PLH akan lebih bermakna apabila siswa terlibat secara aktif dalam pengalaman nyata. Siswa dapat diberi kesempatan untuk mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri, berinteraksi secara positif dengan teman, hingga merawat tanaman sebagai bagian dari rutinitas kelas.
Melalui pengalaman tersebut, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat merasakan manfaat dan konsekuensi dari tindakan mereka.
Misalnya, siswa dapat diberi tugas menyiram tanaman secara bergiliran selama beberapa minggu. Ketika melihat tanaman tumbuh dengan baik, siswa dapat memahami makna tanggung jawab secara lebih nyata dibandingkan hanya membaca penjelasan tentang pentingnya merawat tumbuhan.
Konsistensi Membantu Membentuk Kebiasaan
Sikap peduli lingkungan terbentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, pembiasaan perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika materi PLH sedang dibahas.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Gerakan Sekolah ASRI juga menekankan pentingnya pembiasaan menjaga kebersihan diri serta lingkungan di sekolah.
Guru dapat memasukkan kebiasaan tersebut ke dalam rutinitas kelas. Contohnya, melalui jadwal piket kebersihan, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, atau kegiatan merawat tanaman secara bergiliran.
Dengan pembiasaan yang dilakukan secara rutin, siswa memiliki kesempatan untuk menerapkan nilai kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru sebagai Teladan dan Fasilitator
Metode pembelajaran bukan satu-satunya hal yang memengaruhi pembentukan sikap siswa. Sikap guru dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi contoh bagi siswa.
Siswa sekolah dasar cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat. Ketika guru menunjukkan kepedulian, seperti membuang sampah pada tempatnya atau bersikap ramah kepada siswa tanpa membeda-bedakan, siswa dapat melihat contoh nyata dari nilai yang sedang dipelajari.
Oleh karena itu, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dan fasilitator yang membantu siswa menerapkan nilai kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Kesulitan siswa dalam menunjukkan sikap peduli lingkungan tidak selalu berarti materi PLH gagal disampaikan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa pendekatan pembelajaran perlu disesuaikan. Dari sekadar memahami teori menuju pengalaman langsung yang dilatih secara konsisten dan dikaitkan dengan interaksi sosial sehari-hari.
Menumbuhkan kepedulian lingkungan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua pertemuan. Sikap tersebut dibangun melalui kebiasaan kecil, keteladanan guru, pengalaman langsung, dan hubungan sosial yang sehat antarsiswa.
Ketika hal-hal tersebut berjalan bersama, kepedulian lingkungan tidak lagi hanya menjadi materi yang dipelajari untuk menjawab soal. Nilai tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari karakter siswa yang diterapkan di dalam maupun di luar kelas.
Ingin Menghadirkan Pembelajaran PLH yang Lebih Bermakna?
Buku Pendidikan Lingkungan Hidup untuk SD Kelas II yang diterbitkan Penerbit Literasi Nusantara dapat menjadi salah satu media pendukung bagi guru dalam mengenalkan pendidikan lingkungan kepada siswa.
Buku ini membahas berbagai materi yang dekat dengan kehidupan siswa. Mulai dari menjaga kebersihan diri, berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, memahami lingkungan sehat, menjaga lingkungan, hingga mengenal manfaat dan cara merawat tumbuhan.
Dalam buku ini termuat lima materi pembahasan sebagai berikut.
- Memahami Kegunaan dan Cara Menjaga Tubuh
- Interaksi Sosial dalam Kehidupan Sehari-hari
- Memahami Lingkungan Sehat
- Merusak dan Menjaga Lingkungan
- Mengenal Manfaat dan Merawat Tumbuhan
Dengan materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pembelajaran PLH dapat menjadi lebih mudah dipahami sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk membangun kebiasaan peduli terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan.
Referensi
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). Menanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini melalui Gerakan ASRI di Sekolah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
- RRI.co.id. (2026). Kemendikdasmen Dorong Sekolah Peduli Lingkungan melalui ASRI. RRI.
- Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Banten. (2026). Menanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini melalui Gerakan ASRI di Sekolah. BPMP Banten.