Seorang sunni yang betul-betul memahami esensi Aswaja akan memiliki perilaku yang tidak hanya toleran, tetapi juga mencintai perdamaian dengan sesama muslim, bahkan juga nonmuslim. Mengapa demikian?
Pertama, Aswaja, sesuai fitrahnya, selalu menoleransi pada perbedaan mazhab akidah. Hal itu dibuktikan dengan diterimanya tiga mazhab—Asy’ariah, Maturidiyah, dan Atsariyah—sebagai bangunan akidah, karena Aswaja memercayai bahwa kebenaran tidaklah tunggal.
Kedua, ia juga menoleransi perbedaan mazhab fikih dengan berpijak pada para imam empat mazhab. Hal ini bisa dipahami bahwa terkadang, dalam satu persoalan, terdapat pendapat yang bermacam-macam, dan Aswaja mengakomodasi itu semua. Tiap-tiap mazhab mendapatkan tempat yang sama, dan semuanya benar.
Semua perbedaan, sebagaimana kita yakini bersama, merupakan rahmat. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menegaskan hal ini, “Kesepakatan ulama menjadi pijakan yang pasti, sedangkan perbedaan mereka merupakan rahmat yang luas.”
Dalam buku ini memuat beberapa pembahasan sebagaimana berikut.
I EMPAT PILAR ASWAJA
II MENGHARGAI PERBEDAAN
III MASALAH ZIARAH KUBUR DAN MAULID NABI
IV MAKNA JIHAD
V IDEOLOGI INTOLERAN DAN KEKERASAN
VI GERAKAN TRANSNASIONAL
VII GERAKAN RADIKAL KLASIK

Ulasan
Belum ada ulasan.